JURNAL EKONOMI DAN MANAJEMEN
PENGARUH PENERAPAN ANALISIS
JABATAN TERHADAP PENCAPAIAN KINERJA ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DI KABUPATEN
KUTAI KARTANEGARA
Oleh Heru
Suprapto, SE.,M.Si
(Kata
Kunci: Uraian Jabatan, Persyaratan Jabatan, Kinerja Proses, Kinerja Output)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Job Analys
yang terdiri dari Job Discription (X1) dan Job Spesification (X2) dengan
Kinerja Organisasi yang terdiri dari Kinerja Proses (Y1) dan Kinerja Ourput
(Y2). Responden berasal dari pejabat eselon pada SKPD di Daerah Kabupaten Kutai
Kartanegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Job Spesification tidak
mempunyai hubungan yang significan terhadap Kinerja Proses maupun Kinerja
Output. Permodelan Structural yang terbentuk adalah bahwa Kinerja Output
dipengaruhi oleh Job Discription setelan melalui Kinerja Proses.
I.
Pendahuluan
Hingga
saat ini pegawai
negeri sipil (PNS)
Indonesia berjumlah 4.732.472 orang, terdiri dari PNS Daerah sebanyak 3.778.635 orang dan
PNS Pusat sebanyak 953.837 orang
dan masih
perlu ditata distribusinya, kualitasnya, serta kuantitasnya
(Karim,2011).
Sementara PNS di kabupaten Kutai Kartanegara berjumlah 17.244
orang (Balitbangda,2010). Permasalahan
aparatur negara yang dihadapi pemerintah saat ini menurut Karim (2011) antara
lain adalah :
1. Belum mantapnya sistem
pengembangan PNS.
2. Peran dan fungsi aparatur daerah
belum jelas.
3. Rendahnya kapasitas aparatur daerah.
4. Sistem “Rewards and Punishment ” belum jalan sepenuhnya
Bagi organisasi Pemerintah
Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara
kendala yang dihadapi secara nasional tersebut
di atas juga terjadi di daerah ini. Namun kendala-kendala seperti yang diungkapkan di atas hingga kini belum
sepenuhnya dapat di atasi. Salah satu kendala yang harus
segera memerlukan pembenahan adalah menyangkut rendahnya kapasitas aparatur daerah. Selain itu masih adanya aparatur daerah yang Job Descriptionya tidak jelas, ditunjang
dengan pendidikan formal dan diklat yang kurang memadai atau mismatch. Akibatnya masih ditemui adanya kekurang-tepatan dalam pendistribusian pegawai. Kekurang-tepatan
ini tentunya akan berakibat fatal khususnya bagi
kelangsungan karier pegawai yang bekerja. Pola kerja yang demikian ini pada akhirnya akan
berdampak terhadap penciptaan profesionalisme pegawai dan kinerja organisasi.
Pelaksanaan tugas pemerintahan dan pembangunan yang terus
meningkat saat ini menuntut kemampuan profesional yang semakin tinggi dari jajaran pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara sesuai bidang tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Oleh karena itu setiap jabatan
yang ada dalam organisasi dilingkungan pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara setidaknya diisi oleh tenaga-tenaga yang mempunyai
keahlian dan pengetahuan yang tinggi, kecakapan yang memadai, wawasan yang luas,
dedikasi yang tinggi dan minat serta perhatian yang besar terhadap tugas
pekerjaan dalam jabatan yang dipangkunya.
Jabatan-jabatan yang ada dalam organisasi pemerintah pada umumnya dikelompokkan
dalam dua golongan besar, yaitu jabatan struktural yang bobot tugas pekerjaannya bersifat menejerial, dan jabatan fungsional yang bersifat
non manajerial. Hal ini berarti
bahwa profesionalisme di lingkungan aparatur pemerintah dapat dikembangkan melalui analisis jabatan. Dengan kata lain analisis jabatan dalam pengelolaan sumber daya aparatur menjadi pentingSumber daya aparatur
Analisis jabatan merupakan prosedur untuk menetapkan tugas dan tuntutan keterampilan
dari suatu jabatan/pekerjaan (job description)
dan orang macam apa yang akan melaksanakan pekerjaan tersebut atau job
specification (Dessler:1997). Pengertian
ini, pada dasarnya menekankan pada dua aspek, yaitu meyangkut isi pekerjaan dan orang yang
melaksanakan pekerjaan. Dengan
kata lain bahwa analisis jabatan merupakan bagian dari proses-proses administrasi maupun manajemen dalam meningkatkan
kinerja organisasi.
Dengan demikian kinerja organisasi dalam
hal ini merupakan produk dari kegiatan administrasi dan manajemen. Sebagai produk dari
kegiatan administrasi dan
manajemen, kinerja organisasi selain dipengaruhi oleh faktor-faktor input juga
sangat dipengaruhi oleh proses-proses administrasi dan manajemen yang berlangsung. Sebaik apapun input yang tersedia tidak akan menghasilkan suatu produk
kinerja yang diharapkan secara memuaskan, apabila dalam proses administrasi dan
manajemennya tidak
bisa berjalan dengan baik.
Berangkat dari pemahaman kondisi
tersebut maka studi ini berusaha menganalisis dan mengkaji permasalahan pokok
yaitu apakah analisis jabatan yang telah dilaksanakan selama ini memiliki
pengaruh yang kuat terhadap kinerja organisasi (SKPD) di lingkungan pemerintah
kabupaten Kutai Kartanegara.
II. TINJAUAN
PUSATAKA
2.1.
Konsep Analisis Jabatan
Dessler (1997), mengungkapkan
bahwa analisa jabatan merupakan prosedur untuk menetapkan tugas dan tuntutan
keterampilan dari suatu jabatan dan orang macam apa yang akan melaksanakan
pekerjaan tersebut. Dalam pengertian ini, Dessler
menekankan pada dua aspek, yaitu menyangkut
isi pekerjaan dan orang yang melaksanakan pekerjaan. Dalam
konsep
lain, Mathis dan Jakson (2000) mengartikan analisis pekerjaan sebahai berikut; A Systematic may to gather and analyze
information about the content and the human requirements of jobs, and the
context in which jobs are performed. (analisis jabatan merupakan cara
sistematik untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang isi dan
personal yang dipersyaratkan dalam jabatan, dan dalam hubungannya dengan
prestasi jabatan).
Mathis dan Jackson memisahkan
antara jabatan (jobs) dan posisi (position). Jabatan, dalam pengertiannya
adalah sekelompok tugas, kewajiban, dan tangggung jawab. Sedangkan position diartikan sebagai prestasi
jabatan yang dilakukan oleh seseorang. Informasi yang diperoleh dari analisa jabatan tersebut
dapat digunaan untuk menentukan karakteristik apa yang harus dimiliki seseorang
yang akan menduduki jabatan tertentu. Adapun hasil dari analisa jabatan
tersebut dapat berupa deskripsi jabatan (job
description) dan spesifikasi jabatan (job
specification). Deskripsi jabatan adalah suatu pernyataan tertulis yang
menguraikan fungsi, tugas-tugas, tanggung jawab, wewenang, kondisi kerja dan
aspek-aspek pekerjaan tertentu lainnya. Sedangkan spesifikasi jabatan merupakan
pernyataan tertulis yang menunjukkan siapa yang akan melakukan pekerjaan itu
dan persyaratan yang diperlukan terutama menyangkut keterampilan, pengetahuan
dan kemampuan individu.
2.2. Dimensi Analisis Jabatan
Suatu organisasi dengan melaksanakan analisis jabatan secara tepat dapat mengetahui
dengan pasti rincian tugas
masing-masing bagian dalam organisasi dan dapat
mengetahui persyaratan yang dibutuhkan dari seorang karyawan/pegawai untuk dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut. Hal ini berdampak pada
kemampuan organisasi
untuk menetapkan dan menerapkan strategi sumber
daya manusia yang tepat sehingga dapat menghasilkan
sumberdaya-sumberdaya manusia yang berkualitas
bagi kegiatan operasional organisasi dan
peningkatan kinerja organisasi. Faktor sumber daya manusia merupakan salah satu elemen kunci
dalam mencapai kinerja
organisasi yang diharapkan untuk mencapai kondisi tersebut.
Berangkat dari pemikiran tersebut, analisis jabatan sangat diperlukan dalam rangka
menentukan strategi sumber
daya manusia yang tepat guna menghadapi dinamisnya perkembangan organisasi.
Hal tersebut diperlukan
terutama guna menghindari terjadinya overlapping
dengan cara merancang struktur organisasi yang
sesuai dengan kebutuhan serta pembagian tanggung jawab dari tiap-tiap bagian secara
jelas dan menyeluruh.
Berdasarkan fakta tersebut,
nampak
bahwa analisis jabatan sangat diperlukan guna
menentukan strategi sumber daya manusia yang
tepat dalam rangka menghadapi perkembangan
organisasi. Sementara itu, perspektif karyawan sebagai
pelaksana hasil
dari analisis jabatan sangatlah penting untuk diperhatikan. Efektivitas penerapan
analisis jabatan akan
menimbulkan persepsi di dalam diri karyawan mengenai penerapan analisis jabatan
tersebut, yang akan
berdampak pada motivasi kerja karyawan
yang bersangkutan.
Analisis jabatan sebagai dasar atau pedoman untuk melakukan perencanaan sumber daya
manusia. Analisis jabatan
merupakan
suatu bentuk pengembangan uraian terperinci
dari tugas-tugas yang harus dilakukan dalam suatu jabatan, penentuan hubungan
dari suatu jabatan dengan
jabatan lain yang ada, dan penentuan tentang pengetahuan, keterampilan dan
kemampuan-kemampuan lain
yang diperlukan karyawan untuk melakukan pekerjaan secara efektif dan efisien
(Robbins, 2002).
Analisis jabatan merupakan hal yang perlu dilakukan oleh organisasi
sebagai dasar dalam penentuan strategi sumber
daya manusia yang tepat dalam menghadapi
perkembangan organisasi yang semakin dinamis. Berangkat
dari konsep analisis jabatan di atas maka
berikut ini dapatlah disusun dimensi variabel serta indikator analisis jabatan
sebagai berikut :
a. Uraian jabatan (Job Description), dengan sub dimensi:
1)
Wewenang, dengan
indikator :
(1)
Kewenangan terdefinisikan secara
jelas
(2) Tidak
overlapping dengan posisi lain
(3) Kesesuaian
wewenang dengan posisi
2)
Tanggung Jawab
karyawan, dengan indikator :
(1)
Memperoleh kejelasan mengenai
tanggung jawab yang diemban secara keseluruhan
(2)
Arah pertanggungjawaban jelas
(3)
Kompensasi yang diberikan sesuai
dengan tanggung jawab pekerjaan
3)
Kondisi pekerjaan,
dengan indikator :
(1)
Peraturan atau kebijaksanaan
perusahaan dapat dipahami
(2)
Adanya kejelasan koordinasi dalam
melaksanakan pekerjaan
4)
Fasilitas kerja,
dengan indikator :
(1)
Kelengkapan fasilitas untuk
mendukung kelancaran
pekerjaan
(2)
Kesesuaian fasilitas dengan kebutuhan
pekerjaan
5)
Standar hasil
kerja, dengan indikator :
(1)
Kejelasan mengenai target yang
diharapkan
(2)
Kesesuaian target dengan bidang
pekerjaan
b. Persyaratan Jabatan (Job Specification), dengan sub dimensi:
6)
Pendidikan dan
pelatihan, dengan indikator :
(1)
Kesesuaian tanggung jawab pekerjaan
dengan latar belakang pendidikan
(2)
Kesesuaian tanggung jawab pekerjaan
dengan latar belakang pengalaman kerja
(3)
Efektivitas pelatihan dalam
menunjang pekerjaan
7)
Kompetensi, dengan
indikator :
(1)
Kesesuaian pekerjaan dengan pengetahuan
(2)
Kesesuaian pekerjaan dengan
keahlian
(3)
Kesesuaian pekerjaan dengan
keterampilan
(4)
Kesesuaian pekerjaan dengan minat
(5)
Pengetahuan yang dimiliki dapat
menunjang pekerjaan
secara efektif
(6)
Keahlian yang dimiliki dapat
menunjang pekerjaan
secara efektif
(7)
Keterampilan yang dimiliki dapat
menunjang pekerjaan
secara efektif
(8)
Minat yang dimiliki dapat menunjang
pekerjaan secara
efektif
2.3. Konsep Kinerja Organisasi
Kinerja dapat
dikatakan sebagai sebuah hasil (output) dari suatu proses tertentu yang dilakukan oleh seluruh
komponen organisasi terhadap sumber-sumber tertentu yang digunakan (input). Kinerja juga merupakan hasil dari serangkaian proses
kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu organisasi. Konsep kinerja (Performance) dapat didefinisikan sebagai
sebuah pencapaian hasil atau degree of
accomplishtment (Rue dan byars, 1981 dalam Keban 1995). Hal ini berarti
bahwa, kinerja suatu organisasi itu dapat dilihat dari tingkatan sejauh mana
organisasi dapat mencapai tujuan yang didasarkan pada tujuan yang sudah
ditetapkan sebelumnya. Bagi suatu organisasi, kinerja merupakan hasil dari kegiatan kerjasama
diantara anggota atau komponen organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan
organisasi. Sederhananya, kinerja merupakan produk dari kegiatan administrasi,
yaitu kegiatan kerjasama untuk mencapai tujuan yang pengelolaannya biasa
disebut sebagai manajemen.
Sebagai produk dari kegiatan organisasi dan manajemen,
kinerja organisasi selain dipengaruhi oleh faktor-faktor input juga sangat
dipengaruhi oleh proses-proses administrasi dan manajemen yang berlangsung. Dengan kata lain bahwa sebaik apapun input yang tersedia tidak akan menghasilkan suatu produk
kinerja yang diharapkan secara memuaskan, apabila dalam proses administrasi dan
manajemennya tidak bisa berjalan dengan baik.
Antara input dan proses mempunyai keterkaitan yang erat dan
sangat menentukan dalam menghasilkan suatu output kinerja yang sesuai harapan
atau tidak. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa proses manajemen yang berlangsung tersebut,
merupakan pelaksanaan dari fungsi-fungsi manajemen yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling (POAC) atau lebih detailnya adalah planning, organizing, staffing, directing,
coordinating, regulating, dan
budgetting (POSDCoRB).
Mengingat bahwa kinerja organisasi sangat dipengaruhi oleh
faktor input dan proses-proses manajemen dalam organisasi, maka upaya
peningkatan kinerja organisasi juga terkait erat dengan peningkatan kualitas
faktor input dan kualitas proses manajemen dalam organisasi tersebut. Analisis terhadap kondisi input dan proses-proses administrasi maupun
manajemen dalam organisasi merupakan analisis kondisi internal organisasi.
2.4. Indikator Kinerja Organisasi
Keban
(2004:191) menyebutkan istilah kinerja merupakan terjemahan dari performance yang sering diartikan sebagai penampilan, unjuk kerja,
atau prestasi.
Bernardin dan Russel (dalam Keban, 2004:192) menyebutkan bahwa, kinerja sering diartikan
sebagai tingkat pencapaian hasil atau the
degree of accomplishment. Rue and Byar (dalam Samudra
Wibowo, 1994:35) menyebutkan
bahwa kinerja (performance) didefinisikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau
“the degree of accomplishment“ atau kinerja merupakan tingkat pencapaian tujuan
organisasi secara berkesinambungan. Sementara itu, Rogers (dalam
Mahmudi, 2004:6) menyebutkan bahwa kinerja
didefinisikan sebagai hasil kerja itu sendiri (outcomes of work), karena hasil kerja memberikan
keterkaitan yang kuat terhadap tujuan-tujuan strategik organisasi, kepuasan
pelanggan, dan kontribusi ekonomi. Donald
dan Lawton (dalam Keban, 1995:11) mengatakan bahwa
penilaian kinerja organisasi dapat digunakan sebagai ukuran keberhasilan suatu
organisasi dalam kurun waktu tertentu dan penilai tersebut juga dapat dijadikan
input bagi perbaikan dan peningkatan kinerja organisasi.
Meskipun penilaian kinerja telah berkembang dengan
pesat, akan tetapi penggunaan penilaian kinerja dalam organisasi publik belum
berkembang sebagaimana yang telah terjadi dalam sektor swasta. Berdasarkan data
empiris menunjukkan bahwa penilaian terhadap kinerja di organisasi publik belum
merupakan tradisi yang populer (Keban, 1995:11), dan bahkan terdapat banyak
perbedaan pendapat mengenai kriteria kinerja pelayanan publik yang disebabkan
tujuan dan misi organisasi publik seringkali bukan hanya sangat kabur akan
tetapi juga bersifat multi dimensional (Dwiyanto, 2002:47). Donald dan Lawton
(dalam Ratminto, 2005:174) mengatakan bahwa, “Output oriented measures
throughput, efficiency, effectiveness”. Sedangkan Selim dan Woodward (dalam
Ratminto, 2005:174) mengatakan bahwa kinerja dapat diukur dari beberapa
indikator antara lain, economy, efficiency, effectiveness, dan equity.
Lenvinne (dalam Ratminto, 2005:175) mengusulkan tiga konsep yang bisa
dipergunakan untuk mengukur kinerja birokrasi publik/organisasi non bisnis
yaitu : Responsiveness, responsibility dan accountability. Responsivitas
(responsiveness) disini adalah kemampuan organisasi untuk mengenali
kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, dan mengembangkan
program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi
masyarakat. Responsibilitas (responsibility) disini menjelaskan apakah
pelaksanaan kegiatan organisasi publik itu dilakukan sesuai dengan
prinsip-prinsip administrasi yang benar atau sesuai dengan kebijaksanaan
organisasi baik yang implisit atau eksplisit. Akuntabilitas (accountability)
publik menunjuk pada seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi
publik tunduk pada para pejabat politik yang dipilih oleh rakyat (elected
officials). Zeithaml, Parasuraman dan Berry (dalam Ratminto, 2005:175)
untuk mengukur kinerja digunakan indikator : tangibles, reliability, responsiveness,
assurance, empathy. Sedangkan Gibson, Ivancevich dan Donnely mengemukakan
bahwa kinerja organisasi dapat diukur dari beberapa indikator antara lain :
kepuasan, efisiensi, produksi, perkembangan, keadaptasian dan kelangsungan
hidup. Dari indikator-indikator tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
indikator kinerja organisasi yang berorientasi pada proses dan indikator
kinerja yang berorientasi pada hasil.
Berangkat dari pendekatan dan indikator tersebut di
atas, maka untuk menganalisis kinerja organisasi dalam studi ini digunakan dua
jenis indikator, yaitu indikator yang berorientasi pada proses dan indikator
yang berorientasi pada hasil. Adapun indikator-indikator tersebut adalah
sebagai berikut :
1) Indikator yang berorientasi pada proses.
(1)
Responsivitas,
dalam hal ini yang diukur dari daya tanggap organisasi terhadap harapan,
keinginan dan aspirasi serta tuntutan customer.
(2)
Responsibilitas
dalam hal ini yang diukur dari tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan
pelayanan dengan hukum atau peraturan dan prosedur yang telah ditetapkan.
(3)
Akuntabilitas,
dalam hal ini yang diukur dari tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan
pelayanan dengan ukuran-ukuran eksternal yang ada di masyarakat dan dimiliki stakeholders.
(4)
Keadaptasian, dalam
hal ini yang diukur dari daya tanggap organisasi terhadap tuntutan perubahan
yang terjadi di lingkungannya.
(5)
Kelangsungan hidup,
dalam hal ini yang diukur dari sejauh mana organisasi atau program pelayanan
dapat berkembang dan bertahan hidup dalam berkompetisi dengan organisasi atau
program lain.
(6)
Keterbukaan/transparansi,
dalam hal ini yang diukur dari proses pelayanan diinformasikan secara terbuka.
(7)
Empati, dalam hal
ini yang diukur dari tingkat perhatian organisasi terhadap isu-isu aktual yang
sedang berkembang di masyarakat.
2) Indikator
yang berorientasi pada hasil.
(1)
Efektivitas, dalam
hal ini yang diukur dari sejauh mana tercapainya tujuan yang telah ditetapkan,
baik itu dalam bentuk target, sasaran jangka panjang maupun misi organisasi.
Akan tetapi pencapaian tujuan ini harus mengacu pada visi organisasi.
(2)
Produktivitas,
dalam hal ini yang diukur dari sejauh mana kemampuan organisasi untuk
menghasilkan keluaran yang dibutuhkan masyarakat.
(3)
Efisiensi, dalam
hal ini yang diukur dari perbandingan terbaik antara keluaran dan masukan.
(4)
Kepuasan, dalam hal
ini yang diukur dari sejauh mana organisasi dapat memenuhi kebutuhan pegawai
dan masyarakat.
(5)
Keadilan, dalam hal
ini yang diukur dari sejauh mana organisasi mengusahakan seluas mungkin dengan
distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil jangkauan kegiatan dan
pelayanan.
2.6.
Kerangka Berfikir dan Hipotesis
Studi analisis jabatan dan kinerja organisasi berdasarkan data primer sebagai
berikut:
Gambar
2.1. Skema Kerangka Berfikir :
Berdasarkan dari uraian teoritisasi
dan kerangka berfikir , maka dapat ditarik suatu kesimpulan sementara hipotesis
sebagai berikut :
1.
Uraian
jabatan (job description) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Proses pada organisasi di lingkungan pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (H1).
2.
Uraian
jabatan (job description) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Output pada organisasi di lingkungan pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (H2).
3.
Persyaratan
jabatan (job specification) mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Proses pada organisasi di lingkungan pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara (H3).
4.
Persyaratan
jabatan (job specification) mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Output pada organisasi di lingkungan pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara (H4).
5.
Kinerja
Proses mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Output pada organisasi di lingkungan pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara (H5).
III. Metode
Penelitian
3.1. Jenis Penelitian, Data dan Sampel
Jenis penelitian ini
merupakan
penelitian penjelasan (explanatory
research) yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara
variabel-variabel penelitian
melalui pengujian hipotesa. (Singarimbun dan Effendi,
1987).
Data yang telah terkumpul diolah
dengan bantuan komputer perangkat lunak program Smart PLS 2.0. Data yang digunakan
dalam kajian ini merupakan
data primer. Data primer diperoleh
melalui wawancara mendalam (indepth
interview) dan
penyebaran kuesioner yang berkaitan
dengan persepsi para pegawai terhadap analisis jabatan (Uraian
jabatan/job description dan
Persyaratan jabatan/job specification)
dan kinerja SKPD.
Responden untuk data primer yaitu para PNS ( 4 orang) dari berbagai
strata/eselon kepegawaian yang diambil secara random di masing-masing SKPD
(sebanyak 40 SKPD) yang di survei. Dengan demikian jumlah seluruh sampel adalah
160 orang.
Jenis penelitian ini
merupakan
penelitian penjelasan (explanatory
research) yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara
variabel-variabel penelitian
melalui pengujian hipotesa (Singarimbun dan Effendi,
1987). Alat yang bantu softwere statistik yang sesuai adalah menggunakan Partial Least Square (PLS)
(Ghozali, 2006). Dalam analisis menggunakan PLS dengan tahapan sebagaimana
diuraikan dibawah ini.
Diskripsi data dengan menggunakan
perhitungan rata-rata, prosentase, maksiman, minimal dari sebaran data. Dalam
penelitian ini analisis data menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS)
dengan menggunakan solfware Smart PLS. PLS adalah model persamaan
struktural (SEM) yang berbasis komponen atau varian (variance). Menurut
Ghozali (2006) PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari
pendekatan SEM berbasis covariance menjadi berbasis varian. SEM
yang berbasis covariance umumnya menguji kausalitas/teori sedangkan PLS
lebih bersifat predictive model.
3.2. Definisi Operasional Variabel
Analisis jabatan pada hakekatnya adalah analisis
organisasi. Sesuai dengan hakekatnya, maka aspek pokok yang dikaji dalam
analisis jabatan dalam konteks studi ini adalah produk/hasil dari analisis
jabatan yaitu berupa peta jabatan dan penjabaran dari fungsi pokok
organisasi/SKPD.
Dalam analisis data sekunder digunakan data Peta
jabatan sebagai variable independen) dalam hal ini di lihat dari jumlah jabatan
struktural yang ada di masing-masing organisasi/SKPD. Sedangkan data sekunder
bidang urusan yang merupakan penjabaran dari fungsi pokok organisasi/SKPD di
lihat dari jumlah lingkup bidang urusan di masing-masing unit kerja
organisasi/SKPD. Penjabaran fungsi ini nampak pada pelaksanaan tugas oleh semua
pegawai yang berada di unit kerja organisasi/SKPD tersebut. Dengan demikian
variabel bebas (independen) dalam studi ini adalah peta jabatan dan bidang
urusan. Sedangkan variabel terikat (dependen) dalam studi ini adalah kinerja
organisasi/SKPD, yang di lihat dari realisasi penggunaan anggaran pelaksanaan
program dan kegiatan.